Ah sama saja di mana-mana jika kau berada di Indonesia. Banyak sekali peperangan antar suku, antar/sesama agama,...
Tahun 1981, di Solo terjadi keributan (aku cenderung bilang "perang kecil" antara orang Jawa dan orang Cina. Adikku dan aku hampir terbunuh. Mereka pikir kami orang Cina, karena kami mempunyai kulit kuning dan bermata sipit. Untung Mami (Ibu) keluar rumah bersama 2 tentara (waktu itu memang ditugaskan untuk menjaga rumah kami) dan banyak tetangga yang berteriak-teriak, "Kuwi wong Jowo!" (Itu orang Jawa).
Waktu itu sempat ada orang melempar batu ke jendela rumah kami.
Tahun 1999, di Maluku ada perang antar agama Islam dan Kristen, dua keluarga adik Mamiku jadi korban. Untung hanya korban material, rumah mereka dibakar habis.
Tahun 2002, aku hampir terbunuh bersama klienku dari Perancis, gara-gara dia menghujat ALLAH, di
Banjarmasin.
November 2003, bekas suamiku ribut dengan pembantu (aku tidak tahu masalahnya apa dan aku tidak mau tahu, nanti kalau tahu permasalahannya malah jadi sakit hati saja), lalu terjadi pukul-pukulan. Memang pembantu perempuan itu yang memukul bekas suamiku dengan botol kaca "coca-cola" terlebih dulu, kemudian suamiku merebut botol itu dan memukulnya kembali, sehingga jidatnya berdarah. Dia lalu keluar tokoku dan berteriak, "Ada bule mau membunuhku!!!!" Apa yang terjadi? Ribuan orang langsung berkerumun memngelilingi tokoku, sebagian ada juga yang masuk. Bref...bisa dibayangkan sendiri apa yang terjadi...
Tak lama kemudian Polisi datang, kami diamankan di dalam mobil Polisi. Walaupun begitu, masih ada orang yang mencoba memukul mobil Polisi dan mmenggulingkannya.
Habis sudah semua hartaku: toko grosir dan rumah yang berada tepat di depan tokoku. Kamipun dilarang kembali/tinggal di rumah/toko itu oleh masyarakat setempat. Padahal tanah/rumah itu aku beli sebelum aku menikah dengan bekas suamiku.
Untuk memenangkan perkara dan mengeluarkan eks-suami dari penjara, aku masih harus mengeluarkan banyak uang. Masih beruntung Polisi mau disuap (=Polisi korupsi), sehingga dia hanya tinggal 6 hari di penjara Polda Metro Jaya,
Jakarta, serta aku berhasil menutup perkara itu 6 minggu kemudian. Sehingga aku bersama anakku (waktu itu dia berumur 4 tahun) bisa kembali ke Perancis bulan Januari 2004. Aku tinggalkan eks-suamiku begitu saja, karena di Indonesia dia tidak pernah bekerja, dia suka pergi entah ke mana (
Bali) dan gara-gara dia, kami pun hampir terbunuh.
Aku tidak menakut-nakuti supaya kalian tidak pergi ke Indonesia. Namun aku hanya berpesan supaya kalian berhati-hati dalam bertindak dan bercakap (berbicara/berdiskusi). Jika mereka (orang Indonesia) mengajak kalian berdiskusi masalah agama, iyakan saja. Maksudku mereka boleh berpendapat apa saja. Jaga mulut kalian supaya tidak mengeluarkan umpatan/kata-kata kotor/gros mots. Jika kalian menjalin cinta, kalian harus menyelidiki latar belakang keluarga pacar kalian, supaya kalian tidak jadi sapi perah saja. Begitu juga masalah uang, biarkan saja lah piutang berlalu. Asal kalian tidak ada utang ke mereka.